Sabtu, 06 April 2013

Aiptu Jailani "Oasis di Tengah Padang Pasir"






Di tengah buruknya citra polisi di mata masyarakat,terlebih baru-baru ini masyarakat di suguhkan sebuah perilaku yang amat sangat tidak terpuji dari oknum polisi di Bali,.Belum lagi kasus simulator SIM dan yang lain,semakin membuat citra polisi di mata masyarakat semakin jatuh.
Namun di tengah kondisi yang seperti itu muncul kisah polisi teladan yang bagaikan sebuah oasis di tengah padang pasir,Seorang anggota Satlantas bernama Aiptu Jailani di daerah Gresik inilah yang menjadi sebuah Oasis tersebut bagaimana tidak,kita mungkin sudah tidak asing dengan tindakan polisi yang melakukan tilang dan kemudian menerima uang damai dari pihak yang ditilang,namun hal ini haram bagi Aiptu Jaelani untuk dilakukannya.Aiptu Jaelani dikenal tak kenal kompromi soal tilang,tak pandang siapapun si pelanggar itu entah pejabat ataupun perwira.Bahkan anggota KPK dan istrinya pun pernah merasakan ketegasan dan kejujuran Aiptu Jailani dalam melaksanakan tugasnya yang terkenal anti suap ini,Dan di tangan Aiptu Jailani inilah surat tilang bisa menjadi momok yang membuat setiap orang menjadi lebih tertib dalam berlalu lintas.Ada kisah unik pula tentang kejujuran dan ketegasan Aiptu Jailani ini,tiap Kamis malam Jumat, masyarakat Gresik memiliki tradisi ke Makam Sunan Giri, Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim atau beberapa kawasan religi yang ada di Gresik. Sebagian dari mereka ada yang berkendara. Karena memakai sarung dan peci, mereka pun tak mengenakan helm.
“Saat kepergok Jailani, mereka ditilang. Lalu mengatakan pada Jailani: Saya ini mau ke Makam Sunan Giri, kenapa ditilang? Dengan diplomatis, dijawab oleh Jailani, sekarang kalau saya mau masuk masjid sambil mengenakan helm dan sepatu bagaimana? Tentu tidak boleh, karena ada aturan ketika seseorang hendak masuk tempat ibadah. Juga begitu dengan aturan berkendara di jalanan, ada rambu-rambu yang harus dipatuhi,”.

Sebagai seorang bintara polisi Aiptu Jailani bukan seorang yang memanfaatkan jabatan untuk mengeruk harta sebanyak-banyaknya,walaupun Aiptu Jailani  hanya dijatah istrinya Rp 200 ribu per bulan.Sebuah hal yang patut kita teladani di tengah minimnya uang saku hal ini tidak melunturkan keimanan Aiptu Jailani. Beliau tetap teguh menjalankan tugas sesuai aturan.Ada lagi kisah unik mengenai Aiptu Jailani karena kedisiplinan,kejujuran,dan ketegasannya beliau justru lebih terkenal di mata masyarakat ketimbang kapolres Gresik yang notabanenya adalah atasannya.

Begitu luar biasanya sikap dari Aiptu Jailani,mengingatkan kita pada sebuah anekdot dari Alm.Gus Dur bahwa hanya ada 3 polisi di Indonesia yang tidak bisa disuap yaitu Jendral Hoegeng,Polisi tidur,dan patung polisi,mungkin perlu ditambah dengan Aiptu Jailani.Semoga saja kelak akan muncul polisi-polisi seperti Aiptu Jailani ini,yang tetap jujur,tegas,dan sederhana ditengah berbagai tantangan profesi.


                                         



Minggu, 31 Maret 2013

Pendidikan Sebatas untuk Pekerjaan


Membaca artikel dari Bung Prie GS yang berjudul "Termangu-mangu Ilmu" tadi pagi membuat pikiran saya terbuka untuk merenungi kenyataan yang memang terjadi di sekitar kita.Dalam artikel yang dimuat di harian Suara Merdeka edisi Minggu 31 Maret 2013,bung Prie GS menulis mengenai pendidikan yang hanya terbatas untuk mencari kerja saja,dalam artikel itu bung Prie GS menceritakan mengenai salah satu anak sahabatnya yang akan lulus SMA,kisahnya berawal ketika sang anak yang akan lulus SMA berkeinginan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi dengan pilihan pertama kehutanan dan kedua kelautan.Menurut sang bapak itu adalah pilihan keliru,apalagi sang anak adalah anak perempuan.

Menurut anggapan sang bapak itu bukanlah pilihan yang bergengsi bahkan dianggap ganjil,dikarenakan kemungkinan besar pilihan ini adalah pilihan yang akan sulit untuk mencari pekerjaan ketika sang anak kelak selesai masa studinya.Menurut Bung Prie GS ini merupakan problem besar bangsa ini dimana selalu mengaitkan pendidikan hanya untuk mendapatkan pekerjaan,dan uniknya lagi Bung Prie GS menyebutnya sebuah problem dari negeri yang penuh pengangguran.

Disini muncul pertanyaan kenapa banyak penganggur? bung Prie GS menjelaskan karena pemikiran(Kebanykan orang di negeri ini) didesain hanya berfokus sebagai pencari kerja,pekerja itulah yang akhirnya menjadi posisi tertinggi di derajat cita-cita.

Dari artikel bung Prie GS ini seakan menjadi gambaran nyata yang memang terjadi di sekitar kita,masih banyak orang tua yang tidak suka bahkan sangat takut ketika sang anak memilih bidang-bidang yang tidak bergengsi atau tidak familiar karena dikhawatirka dari bidang itu sang anak akan kesulitan untuk mencari pekerjaan kelak,maka dari itu kebanyakan orang tua selalu mengarahkan anaknya untuk menekuni bidang-bidang yang bermuara pada pekerjaan,tentu hal itu bukan hal buruk tapi terkadang hal itu menimbulkan sebuah tekanan kepada anak karena itu tidak sesuai dengan keinginan dan kata hatinya.

Menurut Bung Prie GS ketika seseorang mengikuti panggilan kata hati maka ia bukan hanya akan menyediakan lapangan pekerjaan saja tapi juga menempatkan manusia pada derajat yang tinggi.Bung Prie GS juga menambahkan betapa gawatnya rakyat sebuah negara yang hanya didik untuk mendatangi panggilan kerja bukan panggilan hati.Biarkanlah anak-anak bergembira mendatangi ilmu-ilmu yang mereka minati,jangan takut-takuti mereka dengan ancaman mengenai sempitnya lapangan pekerjaan.Ilmu itu,jika benar-benar dicintai akan membalas dengan derajat yang tidak disangka-sangka.

Semoga saja kelak bangsa ini memiliki orang-orang yang handal diberbagai bidang,kita tunggu saja lahirnya Chairil Anwar-Chairil anwar yang baru,lahirnya musisi hebat seperti Iwan Fals kelak,atau bahkan pesepak bola sehebat Messi dimasa depan,Amin...

Rabu, 27 Maret 2013

[ARTIKEL] Berikut ini adalah wawancara Iwan Fals yang cukup panjang dan menarik yang dilakukan sekitar tahun 1996 oleh majalah Ummat. Semoga Bermanfaat. -Redaksi-

Iwan Fals : "Saya Suka Hijau, Kuning Merah..."
Angin pagi dan rintik hujan membasahi lapangan Simpruk, Kompleks Pertamina, Kebayoran Lama. Sosok lelaki berbadan tegap itu menatap dengan nanar lapangan sepak bola yang dilumuri rintik hujan. Dia biarkan kumis dan jenggotnya tak beraturan, dengan tinggi badan 175 cm dan berat 65 kg. Juga rambutnya yang panjang.

"Kita pulang saja. Cuaca tak memungkinkan kita latihan pagi ini," ujarnya
lirih, sambil membuka pintu mobilnya.

Mobil Troover tahun 1992 warna metalik itu pun bergerak perlahan. Dan di
antara deru mesin mobil, juga tegur sapa para penjaja koran, sayup-sayup
terdengar nyanyian:

Hutanku rusak langitku bocor makanan yang aku makan tercemar ... Suara dalam
lirik lagu Hijau yang agak berat dan parau itu keluar dari lelaki bernama
Virgiawan Listanto , yang lebih dikenal dengan Iwan Fals itu.

Lagu dan album Hijau itu, yang ia buat hanya beberapa jam, konon album
termahal yang pernah ada dalam industri musik kita. Kabarnya album Hijau itu
laku Rp 300 juta. "Entahlah. Aku nggak tahu kalau sudah masuk ke persoalan
itu. Laguku laku atau tidak, itu soal kedua. Yang pertama, fungsiku
mencip~ta dan menyanyikannya," tutur Iwan ketika didesak soal kebenaran
angka jutaan pada album Hijau.

Sosok Iwan Fals memang tak bisa lepas dari rimba per~bincangan musik
Indonesia kontemporer. Terutama syair yang ia tebarkan ke wilayah publik,
yang selalu diwarnai kegalauan, kegamangan jiwa, dan pemberontakan hati
nurani yang tulus terhadap gejolak yang ada di sekitarnya. Dan respons yang
ia berikan, adalah ~jelmaan dari pengembaraan hati nurani yang jujur, tanpa
pretensi dan gangguan beban dari kekuatan yang ada di sekelilingnya.

Maka, tak heran, akibat kejujuran yang ia sebar melalui syair-syairnya itu,
Iwan sering berbenturan dengan "tembok-tembok kekuasaan". Ia pun "dice~kal"
di mana-mana. Puncak perbenturan itu terjadi pada 1989, saat tur
pertunjukkan 100 kota Iwan digagalkan oleh Kapoltabes Palembang.

Air mata Iwan pun menggenang saat membuka lembaran kelabu di tahun 1989 itu.
Dan ia mendesah dengan suara yang agak parau, "Buatku sungguh aneh. Aku kan
cuma bawa gitar kayu dan tali senar. Tak ada bahayanya dibanding tank,"
ujarnya ketika menutup pintu mobil, sambil mempersilakan kami berbincang di
ruang tamu rumahnya, di kawasan Bintaro. Di Garasi rumah itu, tampak mobil
lain Iwan, Daihatsu Taft, warna biru.

Pemegang Dan II Karate ini cuma ingin bersaksi bahwa lirik lagu yang ia
ciptakan bukan anggur atau jeantonic yang dapat memberikan kenikmatan bagi
peminumnya, melainkan hanya setetes air putih --penyuci akal yang tanpa
hati. Dan ia tak berpretensi apa-apa. "Kalau mau dicekal, silakan saja. Tapi
itu tidak akan mence~kal imajinasi dan kreativitasku," papar Iwan dengan
nada tegas.

Bagi suami Rossana (36), serta ayah Galang Rambu Anarki (14) dan Anisa Cikal
Rambu Bassae (11), kejadian itu memberikan kekuatan baru dalam menapaki
garis hidup yang ia tempuh --garis hidup di jalur musik. Sosok yang pernah
diklaim sebagai Bob Dylan-nya Indonesia ini makin yakin bahwa musik adalah
sesuatu yang serius dan penuh dengan irama kehidupan yang menghentak.

Ziarah Batin. Kehidupan jalanan membawa Iwan terdampar di setiap lembah yang
penuh kemuraman. "Aku sempat terbuai minuman, mabok-mabokan, dan ganja. Tapi
itu dulu. Hanya saja aku selalu menemukan jalan keluar. Hubunganku dengan
Dia lebih kuat dari semuanya. Aku bisa nangis dan sujud sama Dia," ujar
Iwan.

Iwan merasakan betul sentuhan batin Rendra. "Aku lebih baik dibilang
terpengaruh Mas Willy (panggilan akrab Rendra --Red. ) ketimbang siapa pun,
termasuk Bob Dylan." Iwan memang pernah terlibat di Bengkel Teater Rendra.
Menurut Iwan, "Mas Willy dan teman-teman Bengkel Teater juga memberi ingatan
perihal detail dan soal kedalaman pada lagu-laguku."

Memasuki paruh tahun 1990-an, Iwan kelihatan makin "alim". "Aku mulai
shalat. Meski masih cemang-cemong (bolong-bolong), ya.. paling tidak
shalatku merupakan bagian kontemplasiku," ungkap penyanyi yang menjadi idola
anak muda ini. Hanya saja, sampai sekarang, menurut pengakuan Iwan, ia masih
sulit bangun pagi untuk shalat Subuh.

"Yos --panggilan sang istri-- yang rajin shalat. Bahkan, untuk kegia~tan
lain, seperti setiap Senin sore, di rumah ada guru mengaji, aku nggak ikut.
Hanya Yos, Galang, dan Cikal saja. Kalau aku ikut, bisa-bisa aku yang
ngajarin guru ngaji untuk nyanyi," ucapnya, diiringi derai tawa dan kepulan
asap rokok kretek Djarum 76-nya.

Dunia Ngamen. Lewat pergulatan panjang dan benturan-benturan hidup yang
dilaluinya, Iwan Fals, yang dilahirkan 3 September 1961 di Jakarta, dan
menikah pada usia 19 tahun, menjalani hidup penuh kontroversi.

Anak kelima dari sembilan bersaudara pasangan Kol (Purn.) Harsoyo dan Lies
ini meminati dunia tarik suara sejak masa kanak-kanak. Harmonika yang diberi
oleh uyut , neneknya ibu, adalah awal perkenalan Iwan dengan perangkat
musik. Ia pun menyanyi dan mencipta syair lagu ketika masih duduk di bangku
sekolah dasar. Tamat SD, ia sempat mukim di Jeddah, selama 9 bulan,
mengikuti orang tua angkat. "Aku sempat sekolah di sana. Muridnya cuma tiga.
Karena muridnya sedikit, aku nggak bisa nyontek . Bosan, dan akhirnya
kembali ke Indonesia," papar Iwan sambil bercanda.

Di bangku SMP 5 Bandung, gitar hadiah orang tuanya juga memberi andil dalam
perjalanan hidup Iwan. "Dunia ngamen aku jalani ketika masih duduk kelas
satu SMP. Itu karena uang saku bulanan cuma Rp 10.000. Itu kurang sekali
waktu itu. Terpaksa ngamen . Dari pagi sampai magrib bisa dapat Rp 4.000.
Lalu keterusan," aku Iwan mengenang masa lalunya.

Suatu ketika ia ngamen di kompleks Akabri, Jalan Sahardjo, Jakarta, di satu
rumah yang ramai oleh ibu-ibu arisan, Iwan tersentak. Ternyata ibunya salah
satu dari peserta arisan di kompleks Akabri tersebut. Ia pun dihardik.

Namun ayahnya mendukung aktivitas Iwan. "Aku dapat dukungan dari Bapak,
meski mulanya dia juga nggak suka. Dia nanya , apa aku yakin dengan jalan
hidup yang kuambil. Aku bilang, 'Ya.'"

Usai SMP, Iwan sempat mengenyam SMA di Yogyakarta, meski akhirnya
menyelesaikan di ibu kota pada tahun 1979. Dan ngamen jalan terus. "Aku
pernah disiram kopi panas, ketika ngamen di daerah Bandung. Ya.. aku terima
saja. Kita kan nggak diundang. Harus siap menghadapi risiko," kenang Iwan
sambil mengumbar senyum.

Iwan pun sempat menikmati bangku kuliah di Sekolah Tinggi Publi~sistik,
Jakarta (kini IISIP) --tak selesai-- sembari terus ngamen . Sejak di sarang
wartawan inilah namanya mulai menghiasi halaman media massa. Dan album
pertamanya, Oemar Bakri (1981), meledak.

Suara azan di siang hari ikut serta menyemarakkan perbincangan kami. Yos
bergegas ke kamar mandi, membasuh wajah dan menyucikan bagian badannya yang
lain, untuk shalat Zuhur. Cikal pulang sekolah. Dan Galang, sudah empat hari
tak terlihat di rumah. Dua pembantunya, mondar-mandir. Sementara di luar
rumah, dua orang pekerja kebun memunguti daun-daun yang berserakan di taman,
sambil memangkas ranting-ranting pohon.

"Meski rumah kontrakan, aku betah. Insya Allah, enam bulan lagi kami pindah
ke rumah sendiri, di Desa Leuwiang, Pondok Gede," ungkap Iwan, yang sedang
membangun rumah bertingkat dua di area tanah seluas 3.000 meter. Ia ingin
tenang menjelang pemilu. Menyaksikan perubahan. "Banyak orang bilang aku
Golput. Padahal setiap pemilu, aku tusuk semua gambar kontestan yang ada.
Karena kebetulan aku suka warna dasar kuning, hijau, dan merah...," gurau
Iwan, menutup perbincangan kami.

Edy A. Effendi

----------------------------------------------------------------------------
Demokrasi Nasi di Negeri Petani

April 1984 di Pekanbaru, memegang gitar dan harmonika, menyanyikan lagu
Demokrasi Nasi dan Mbak Tini (dua lagu yang tak pernah ada di albumnya),
menyeret Iwan beruru~san dengan Korem 031 Pekanbaru. Lagu Demokrasi Nasi
dianggap mengganggu stabilitas. Akhirnya, Iwan ditahan dan diinterogasi.

"Aparat keamanan nyuruh aku bikin lagu seperti lagunya Rinto Harahap dan A.
Riyanto. Ya, jelas, dong, nggak bakalan laku," ujar Iwan sambil menyibak
rambutnya.

Kejadian serupa terjadi di Bandung, 2-3 Maret 1992. Usai pertunjukkan, fans
Iwan Fals ngamuk . Iwan pun kembali berurusan dengan pihak kepolisian.

Dalam bentuk lain, ketika acara "Indonesian International Drum Festival
1993", 18 Desember 1993, botol-botol minuman, kursi-kursi serta pot-pot
bunga yang ada di sekitar panggung terbuka Pasar Seni Ancol, beterbangan.
"Tapi kenapa aku yang selalu jadi sasaran kesalahan. Padahal, soal kerusuhan
penonton, banyak faktor yang ikut mendukung. Salah satunya, ya.. kesenjangan
sosial," jelas Iwan.

Yang paling dirasakan memukul batin Iwan adalah saat tur 100 kota tahun
1989, yang sudah dirancang secara dengan matang, dihentikan oleh Kapoltabes
Palembang. Dan Iwan pun meneteskan air mata. "Aku heran. Alasan pembatalan
itu tidak jelas. Katanya ada isu per~saingan sponsor, peristiwa Lampung, dan
macam-macamlah ...," ungkap Iwan. Pencekalan Iwan banyak disebabkan oleh
lirik lagunya yang dianggap "bugil dan telanjang". Hanya saja, menurut Iwan,
selama ini belum pernah ada pernyataan resmi dari aparat bahwa lirik-lirik
lagun~ya jadi penyebab keributan.

"Mereka butuh masukan tentang siapa kita. Kritik itu penting untuk
keseimbangan, untuk kehidupan bersama. Bukankah itu juga diinginkan oleh
orang semacam Nurcholish Madjid, tentang perlunya partai oposisi, sebagai
check and balance ?" ungkit penyanyi balada itu.

Tapi, urusan cekal dan sensor lagu tak hanya dikerjakan oleh aparat
keamanan. Produser pun sering ikut campur. "Produser takut kalau-kalau
studionya ditutup. Aneh juga, Pemer~intah saja nggak pernah menyensor lirik
laguku. Mereka hanya kurang informasi. Ya.. aku sadar, aku hidup di negeri
petani, yang demokrasinya masih pakai nasi," ucap Iwan.

Saat ini, Iwan lebih betah tinggal di rumah, menemani Yos, Galang dan Cikal.
Galang, anak pertamanya, meneruskan tradisi ayahnya, main musik. Sekolah pun
dia tinggalkan ketika masih kelas dua SMP. "Aku suruh anak-anak memilih
jalan hidupnya sendiri. Sebagai orang tua, tugasku mengingatkan saja,"
komentar Iwan ketika melihat Galang malas pergi ke sekolah. [EAE]         

                                         
http://iwan-fals.blogspot.com/2007/05/wawancara-iwan-fals-di-tahun-1990.html

Jumat, 08 Februari 2013

Ketika Manusia Lebih Buas dari Binatang


   Manusia sebagai makhluk yang dikarunia akal pikiran,merupakan makhluk paling sempurna yang ada dalam kehidupan.Dengan karunia akal dan pikiran ini manusia dijadikan sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab menata,menjaga,dan melstarikan kehidupan yang telah Tuhan ciptakan di bumi ini.Seperti menjaga kelestarian alam,menjaga kelangsungan hidup binatang,dan juga menjaga ketentraman hidup dengan manusia lain.

    Namun justru kita sering saksikan bahkan juga kita lakukan,dengan akal pikiran yang Tuhan karuniakan kepada kita ini justru banyak dari kita memanfaatkannya untuk hal-hal yang bersifat tidak baik.Dan banyak pula dari kita yang justru menjadikan karunia berupa akal dan pikiran hanya untuk ajang mengeruk keuntungan pribadi tanpa memperhatikan pihak-pihak lain yang dirugikan atas tindakan tersebut.

    Mungkin kita sudah bosan dan muak melihat orang-orang yang memiliki intelektualitas tinggi justru bertindak tidak sepantasnya,mereka melakukan tindakan yang justru menyengsarakan kehidupan banyak orang.dari sinilah mungkin kita harus membuka mata,teling dan hati bahwa akal yang tak diiringi hatu nurani dan budu pekerti hanya menjadikan manusia sama seperti hewan bahkan mungkin lebih buas dan mematikan dari binatang buas sekalipun.

     Pepatah mengatakan "Kalajengking memiliki bisa di ekornya,ular kobra memiliki bisa dimulutnya,tapi manusia yang tak berbudi memiliki bisa di seluruh tubuhnya".Mari bersama gunakan kelebihan kita yang berupa karunia akal dan pikiran untuk kebaikan kehidupan bukan jadi penghancur kehidupan

Salam Damai Sejuta Cinta Orang Indonesia :)

   

Sabtu, 15 Desember 2012

Persahabatan dan Maknanya

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga sa'at kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat...

        Inilah sepotong lirik lagu dari legenda musik kebanggaan ane,yang menggambarkan begitu kuatnya arti sahabat dan persahabatan.Setiap orang yang hidup di muka bumi ini pasti selalu butuh yang namanya sahabat dan persahabatan,munafik kalau ada orang yang bilang tidak butuh sahabat dalam hidupnya.Bagi saya sendiri sahabat adalah malaikat yang Tuhan kirimkan kepada kita sebagai penolong dan teman yang setia penghapus sepi,tanpa mengecilkan peran orang tua.Persahabatan dan sahabat sebenarnya adalah sebuah hal yang teramat sulit untuk diungkapkan melalui kata-kata,karena terlampau luar biasa makna yang terkandung di dalamnya.Dimana didalam persahabatan terjadi proses penguatan dalam menghadapi kerasnya kehidupan antara satu orang dengan yang lain dalam persahabatan itu.

       Pasti ada pasang surut dalam menjalani persahabatan,pasti ada suks,duka,jengkel bahkan mungkin perselisihan tapi persahabatan sejati pasti selalu bisa menghadapi segala cobaan itu.Ada sebuah ungkapan mengatakan "Uang dapat membeli bawahan tapi tidak dapat membeli sahabat".Ungkapan sederhana ini menunjukkan betapa berharganya sahabat dan persahabatan bahkan hingga tak ternilai harganya,bahkan bagi saya persahabatan itu lebih berkilau dibanding berlian dan sesuatu yang lebih mengkilap dibanding emas 24karat.

          Dan bagi saya kehebatan sahabat itu adalah ketika ia berkata jujur tentang kita,memang akan terasa seperti tertikam namun kita juga dipaksa membuka mata tentang segala kekeliruan dan akhirnya kita bisa membenahi kesalahan dan kekeliruan yang ada pada kita.Hal ini mungkin dapat diungkapkan dengan kata bijak seperti ini,"Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah." 

        Namun dimasa-masa kini yang hampir semuanya dinilai dari aspek materiil,persahabatan hanya dinilai dari segi untung rugi semata.Dan hal ini mencederai sebuah makna dari persahabatan yang hanya berpatokan pada kejujuran,kesetiaan,kederhanaan dan saling pengertian.Namun bagi saya persahabatan sejati tetaplah persahabatan sejati dimana semuanya hanya berpatokan pada hal tersebut diatas.Berikut ada sebuah puisi untuk sahabat tercinta

 UNTUK ENGKAU SAHABAT

Kala temaram datang,selimuti jiwa
Engkau hadir,engkau hadir
Dengan seberkas cahaya terangi jiwa

Kala ku berlumur kecewa yang teramat
Engkau selaksa mata air
Yang sirami jiwaku
Diwaktu kecewa datang menggoda

Mungkin engkau diciptakan Tuhan
Sebagai penawar rindu
Agar jiwaku tak kesepian
Engkau laksana embun penyejuk
Yang mampu usap segala duka lara

Biarlah tawamu,candamu,dan segala tentangmu
Bersemayam di dalam kalbuku
Kan kupatri erat setiap kenangan bersamamu
Di dalam relung-relung jiwaku

Andai kelak waktu enggan pertemukan kita lagi
Maka setidaknya biarkanlah
 Aku mengenang setiap perjalanan bersamamu

Jangan tertawakan simpanlah dalam hatimu yang sejuk
Rimbun akan ketulusan hidup
Takkan mampu aku ungkapkan
Melalui guratan tulisan ini
Setiap kebaikan,setiap warna
Yang telah kau goreskan
dalam lembaran hidupku

Izinkanlah lantunan doa dalam setiap sujudku
Balas segala ketulusan,kebaikan,dan warna hidup
Yang telah engkau ajarkan
Wahai Engkau sahabat tak terlupakan…

                                                                   (Prasetya Bahar P)

Tulisan untuk Sahabat-sahabat saya yang tercinta :)